Syaikh Imam, ulama yang alim dan beramal, cendekiawan yang sempurna, Syaikhul Islam dan Mufti umat manusia, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, semoga Allah mendukungnya dan menambah karunia-Nya yang agung, ditanya tentang sabar yang indah, memaafkan yang indah, dan menjauhi yang indah, serta apa saja pembagian takwa dan sabar yang dialami manusia.
Beliau menjawab, semoga Allah merahmatinya: Segala puji bagi Allah. Amma ba'du (setelah itu), sesungguhnya Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjauhi dengan cara yang indah, berlapang dada dengan cara yang indah, dan bersabar dengan cara yang indah. Menjauhi yang indah adalah menjauhi tanpa menyakiti, memaafkan yang indah adalah memaafkan tanpa mencela, dan sabar yang indah adalah sabar tanpa mengeluh. Ya'qub 'alaihis salam berkata, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku," bersamaan dengan ucapannya, "Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan." Mengadu kepada Allah tidak bertentangan dengan sabar yang indah. Diriwayatkan dari Musa 'alaihis salam bahwa beliau berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala puji, kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mu tempat meminta pertolongan, dan kepada-Mu tempat bersandar." Dan di antara doa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku, kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang Engkau kuasakan urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, hanya saja kesehatan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya kegelapan menjadi terang dan urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau datangnya kemarahan-Mu kepadaku. Bagi-Mu-lah celaan hingga Engkau ridha." Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu membaca dalam shalat Subuh, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku," dan beliau menangis hingga terdengar isakannya dari akhir shaf, berbeda dengan mengadu kepada makhluk. Dibacakan di hadapan Imam Ahmad saat sakit menjelang wafatnya bahwa Thawus tidak suka rintihan orang sakit dan berkata, "Itu adalah keluhan." Maka beliau tidak mengerang hingga wafat. Hal itu karena orang yang mengeluh adalah orang yang meminta dengan lisan keadaannya, baik dihilangkannya sesuatu yang membahayakannya atau diperolehnya sesuatu yang bermanfaat baginya. Seorang hamba diperintahkan untuk meminta kepada Rabb-nya, bukan kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah." Manusia pasti membutuhkan dua hal: ketaatan dengan mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang, serta kesabarannya terhadap apa yang menimpanya dari takdir yang telah ditentukan. Yang pertama adalah takwa, dan yang kedua adalah sabar. Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (sendiri) karena mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu," hingga firman-Nya, "Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." Dan Yusuf telah berkata, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku, sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
WASIAT SYAIKH ABDUL QADIR
Oleh karena itu, Syaikh Abdul Qadir dan para syaikh yang lurus lainnya biasanya berwasiat dalam sebagian besar perkataan mereka dengan dua prinsip ini: bersegera mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, serta sabar dan ridha terhadap takdir yang ditentukan. Hal itu karena masalah ini disalahpahami oleh banyak orang awam, bahkan oleh sebagian orang yang menempuh jalan spiritual. Di antara mereka ada yang hanya menyaksikan takdir dan menyaksikan hakikat kauniyah (ketetapan Allah secara umum) tanpa hakikat diniyah (ketetapan Allah dalam agama). Mereka melihat bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Rabb segala sesuatu, dan mereka tidak membedakan antara apa yang dicintai dan diridhai Allah dengan apa yang dimurkai dan dibenci-Nya, meskipun Allah telah menakdirkan dan menetapkannya. Mereka juga tidak membedakan antara tauhid uluhiyah (meng-esakan Allah dalam ibadah) dengan tauhid rububiyah (meng-esakan Allah dalam penciptaan dan pengaturan). Mereka menyaksikan persatuan yang dialami oleh semua makhluk, baik yang bahagia maupun yang celaka, persatuan yang dialami oleh orang mukmin dan kafir, orang baik dan orang jahat, nabi yang jujur dan nabi palsu, penghuni surga dan penghuni neraka, wali-wali Allah dan musuh-musuh-Nya, malaikat yang dekat dengan Allah dan setan yang durhaka. Ini adalah pemahaman yang salah tentang takdir dan ketetapan.
Karena semua itu bersatu dalam persatuan ini dan hakikat kauniyah ini, yaitu bahwa Allah adalah Rabb mereka, pencipta mereka, dan raja mereka, tidak ada Rabb bagi mereka selain Dia. Mereka tidak menyaksikan perbedaan yang dengannya Allah membedakan antara wali-wali dan musuh-musuh-Nya, antara orang-orang mukmin dan kafir, antara orang-orang baik dan jahat, antara penghuni surga dan neraka, yaitu tauhid uluhiyah, yaitu beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dan mengerjakan apa yang dicintai dan diridhai-Nya, yaitu apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun perintah sunnah, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, serta mencintai wali-wali-Nya dan membenci musuh-musuh-Nya, memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, dan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik dengan hati, tangan, dan lisan. Barangsiapa yang tidak menyaksikan hakikat diniyah ini yang membedakan antara ini dan itu, dan tidak bersama orang-orang yang memiliki hakikat diniyah, maka dia termasuk golongan orang-orang musyrik, dan dia lebih buruk daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani.
PENGAKUAN ORANG-ORANG MUSYRIK TERHADAP HAKIKAT KAUNIYAH
Karena orang-orang musyrik mengakui hakikat kauniyah, mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah'." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Rabb langit yang tujuh dan Rabb 'Arsy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?'" Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)." Sebagian ulama salaf berkata, "Jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka akan menjawab, 'Allah,' namun bersamaan dengan itu mereka menyembah selain-Nya." Barangsiapa yang mengakui takdir dan ketetapan tanpa perintah dan larangan syar'i, maka dia lebih kafir daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka mengakui malaikat dan rasul yang membawa perintah dan larangan syar'i, tetapi mereka beriman kepada sebagian dan kafir kepada sebagian lainnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain),' serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya." Adapun orang yang menyaksikan hakikat kauniyah dan tauhid rububiyah yang mencakup seluruh makhluk, dan mengakui bahwa semua hamba berada di bawah takdir dan ketetapan, dan menempuh hakikat ini sehingga tidak membedakan antara orang-orang mukmin dan bertakwa yang taat kepada perintah Allah yang diutus oleh para rasul-Nya dengan orang-orang kafir dan jahat yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka lebih kafir daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Akan tetapi, ada sebagian orang yang menyadari perbedaan dalam beberapa hal tanpa hal lainnya, sehingga mereka membedakan antara orang mukmin dan kafir, tetapi tidak membedakan antara orang baik dan jahat, atau mereka membedakan antara sebagian orang baik dengan sebagian orang jahat, dan tidak membedakan antara yang lain, mengikuti dugaan dan hawa nafsu mereka. Maka mereka memiliki keimanan yang kurang sesuai dengan kadar mereka menyamakan antara orang-orang baik dan jahat, dan mereka memiliki keimanan kepada agama Allah Ta'ala sesuai dengan kadar mereka membedakan antara wali-wali dan musuh-musuh-Nya. Barangsiapa yang mengakui perintah dan larangan diniyah tanpa takdir dan ketetapan, maka dia termasuk golongan Qadariyah seperti Mu'tazilah dan lainnya, yang merupakan Majusi umat ini. Mereka menyerupai Majusi, dan mereka menyerupai orang-orang musyrik yang lebih buruk daripada Majusi. Dan barangsiapa yang mengakui keduanya dan menjadikan Rabb sebagai sesuatu yang kontradiktif, maka dia termasuk pengikut Iblis yang menentang Rabb Subhanahu wa Ta'ala dan membantah-Nya, sebagaimana diriwayatkan darinya.
PEMBAGIAN MANUSIA DALAM UCAPAN DAN KEYAKINAN
Demikian pula, mereka dalam keadaan dan perbuatan. Yang benar di antara itu adalah keadaan orang mukmin yang bertakwa kepada Allah, mengerjakan yang diperintahkan, meninggalkan yang dilarang, dan bersabar terhadap apa yang menimpanya dari takdir yang ditentukan. Dia berada di sisi perintah dan larangan, agama dan syariat, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam hal itu, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." Dan jika dia berbuat dosa, dia beristighfar dan bertaubat. Dia tidak berdalih dengan takdir atas apa yang dia lakukan dari keburukan, dan dia tidak melihat makhluk memiliki hujjah atas Rabb seluruh makhluk. Dia beriman kepada takdir dan tidak berdalih dengannya, sebagaimana dalam hadits shahih yang di dalamnya terdapat sayyidul istighfar, yaitu seorang hamba mengucapkan, "Ya Allah, Engkaulah Rabb-ku, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku berada di atas janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atasku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau." Dia mengakui nikmat Allah atasnya dalam kebaikan dan mengetahui bahwa Dialah yang memberinya hidayah dan memudahkan baginya jalan kebaikan, dan dia mengakui dosa-dosanya dari keburukan dan bertaubat darinya, sebagaimana perkataan sebagian orang, "Aku taat kepada-Mu dengan karunia-Mu dan anugerah-Mu, dan aku durhaka kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan hujjah-Mu. Maka aku meminta kepada-Mu dengan wajibnya hujjah-Mu atasku dan terputusnya hujjahku, kecuali Engkau mengampuni aku." Dan dalam hadits shahih qudsi, "Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal perbuatanmu, Aku mencatatnya untukmu kemudian Aku membalasmu. Barangsiapa yang mendapati kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri." Ini memiliki pembahasan yang panjang di tempat lain.
Dan yang lainnya, mereka hanya menyaksikan perintah saja, maka engkau mendapati mereka bersungguh-sungguh dalam ketaatan sesuai kemampuan mereka, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan tentang takdir yang mewajibkan bagi mereka hakikat permohonan pertolongan, tawakkal, dan sabar. Dan yang lainnya, mereka hanya menyaksikan takdir saja, maka mereka memiliki permohonan pertolongan, tawakkal, dan sabar yang tidak dimiliki oleh mereka yang pertama, tetapi mereka tidak berkomitmen terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, mengikuti syariat-Nya, dan berpegang teguh pada apa yang dibawa oleh Al-Kitab dan As-Sunnah dari agama. Mereka ini memohon pertolongan kepada Allah tetapi tidak menyembah-Nya. Dan orang-orang yang sebelumnya ingin menyembah-Nya tetapi tidak memohon pertolongan kepada-Nya. Dan orang mukmin menyembah-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Dan golongan keempat adalah golongan yang paling buruk, yaitu orang yang tidak menyembah-Nya dan tidak memohon pertolongan kepada-Nya. Mereka tidak bersama syariat yang memerintahkan dan tidak bersama takdir kauniyah. Pembagian mereka menjadi golongan-golongan ini adalah dalam apa yang terjadi sebelum terjadinya takdir, seperti tawakkal dan permohonan pertolongan, dan apa yang terjadi setelahnya, seperti sabar dan ridha. Mereka dalam takwa, yaitu ketaatan terhadap perintah agama, dan sabar terhadap apa yang ditakdirkan dari takdir kauniyah, terbagi menjadi empat golongan.
PEMBAGIAN MANUSIA DALAM TAKWA DAN SABAR
Salah satunya adalah orang-orang yang bertakwa dan sabar, yaitu orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan orang-orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Yang kedua adalah orang-orang yang memiliki jenis takwa tanpa sabar, seperti orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang semisalnya, dan meninggalkan yang haram, tetapi jika salah seorang dari mereka ditimpa musibah pada badannya dengan penyakit dan yang semisalnya, atau pada hartanya, atau pada kehormatannya, atau diuji dengan musuh yang menakutkannya, maka kepanikan mereka menjadi besar dan ketakutan mereka tampak. Yang ketiga adalah kaum yang memiliki jenis sabar tanpa takwa, seperti orang-orang jahat yang bersabar terhadap apa yang menimpa mereka dalam hawa nafsu mereka, seperti pencuri dan perampok yang bersabar terhadap rasa sakit dalam apa yang mereka cari dari perampasan dan pengambilan yang haram, dan para penulis serta pegawai istana yang bersabar terhadap hal itu dalam mencari harta yang mereka peroleh dengan pengkhianatan dan lainnya. Demikian pula, para pencari kepemimpinan dan keunggulan atas orang lain bersabar terhadap berbagai macam gangguan yang tidak disabarkan oleh kebanyakan orang. Demikian pula, para pencinta gambar-gambar haram dari kalangan pencinta dan lainnya bersabar dalam apa yang mereka inginkan dari yang haram terhadap berbagai macam gangguan dan rasa sakit. Mereka inilah orang-orang yang menginginkan keunggulan di muka bumi atau kerusakan, dari kalangan pencari kepemimpinan dan keunggulan atas makhluk, dan dari kalangan pencari harta dengan kezaliman dan permusuhan, dan menikmati gambar-gambar haram dengan pandangan atau kontak langsung dan lainnya. Mereka bersabar terhadap berbagai macam hal yang dibenci, tetapi mereka tidak memiliki takwa dalam apa yang mereka tinggalkan dari yang diperintahkan dan apa yang mereka lakukan dari yang dilarang. Demikian pula, seseorang mungkin bersabar terhadap musibah yang menimpanya seperti penyakit dan kemiskinan dan lainnya, tetapi tidak ada takwa di dalamnya jika dia memiliki kekuasaan. Adapun golongan keempat adalah golongan yang paling buruk, mereka tidak bertakwa jika mereka memiliki kekuasaan dan tidak bersabar jika mereka diuji, bahkan mereka sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." Engkau mendapati mereka sebagai orang yang paling zalim dan sombong jika mereka memiliki kekuasaan, dan orang yang paling hina dan panik jika mereka dikalahkan. Jika engkau mengalahkan mereka, mereka akan menghinakan diri kepadamu, bermunafik kepadamu, menjilatmu, dan memohon belas kasihanmu, dan mereka akan melakukan berbagai macam kebohongan dan kehinaan serta membesar-besarkan orang yang diminta untuk membela diri mereka. Dan jika mereka mengalahkanmu, mereka akan menjadi orang yang paling zalim dan paling keras hati, serta paling sedikit rahmat, kebaikan, dan maafnya. Sebagaimana yang telah dialami oleh umat Islam pada setiap orang yang jauh dari hakikat keimanan, seperti orang-orang Tatar yang diperangi oleh umat Islam dan orang-orang yang menyerupai mereka dalam banyak hal, meskipun mereka menampakkan diri dengan pakaian tentara, ulama, zahid, pedagang, dan pengrajin umat Islam. Karena patokan adalah hakikatnya. Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian. Barangsiapa yang hati dan amalnya seperti hati dan amal orang-orang Tatar, maka dia menyerupai mereka dari sisi ini. Dan apa yang bersamanya dari Islam atau apa yang dia tampakkan darinya sama seperti apa yang ada pada mereka dari Islam dan apa yang mereka tampakkan darinya. Bahkan, ditemukan pada selain orang-orang Tatar yang berperang dari kalangan orang-orang yang menampakkan Islam orang yang lebih murtad dan lebih layak dengan akhlak jahiliyah serta lebih jauh dari akhlak Islam daripada orang-orang Tatar.
Dalam Ash-Shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda dalam khutbahnya, "Sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap bid'ah adalah sesat." Jika sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, maka setiap orang yang lebih dekat dengannya dan lebih menyerupainya, maka dia lebih dekat dengan kesempurnaan dan lebih berhak dengannya. Dan setiap orang yang lebih jauh darinya dan kemiripannya dengannya lebih lemah, maka dia lebih jauh dari kesempurnaan dan lebih berhak dengan kebatilan. Orang yang sempurna adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling sabar terhadap apa yang menimpanya. Setiap kali seseorang lebih mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan lebih besar dalam kesesuaian dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah serta kesabarannya terhadap apa yang ditakdirkan dan ditetapkan-Nya, maka dia lebih sempurna dan lebih utama. Dan setiap orang yang kurang dari dua hal ini, maka dia memiliki kekurangan sesuai dengan hal itu.
SABAR DAN TAKWA DALAM AL-KITAB DAN AS-SUNNAH
Allah telah menyebutkan sabar dan takwa bersamaan di beberapa tempat dalam kitab-Nya dan menjelaskan bahwa Dia menolong hamba-Nya atas musuhnya dari kalangan orang-orang kafir yang memerangi dan menentang, serta orang-orang munafik, dan atas orang yang menzaliminya dari kalangan umat Islam, dan akibat yang baik adalah milik pemiliknya. Allah Ta'ala berfirman, "Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (sendiri) karena mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu mendapat kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat musibah, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." Dan saudara-saudara Yusuf berkata kepadanya, "Apakah sesungguhnya kamu Yusuf?" Dia menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku, sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
Allah telah menggabungkan sabar dengan amal saleh secara umum dan khusus. Allah Ta'ala berfirman, "Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan." Dan dalam mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya terkandung seluruh takwa, yaitu membenarkan berita Allah dan taat terhadap perintah-Nya. Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang sabar." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Maka bersabarlah, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah mengagungkan Tuhanmu di waktu petang dan pagi." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah (pula) pada waktu-waktu di malam hari." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Ini adalah tempat-tempat di mana Dia menggabungkan shalat dan sabar. Dia menggabungkan antara rahmat dan sabar dalam firman-Nya, "Dan mereka saling berwasiat dengan kesabaran dan saling berwasiat dengan kasih sayang." Dan dalam rahmat terkandung berbuat baik kepada makhluk dengan zakat dan lainnya. Sesungguhnya pembagian itu juga empat golongan, karena di antara manusia ada yang sabar tetapi tidak penyayang, seperti orang-orang yang kuat dan keras hati. Di antara mereka ada yang penyayang tetapi tidak sabar, seperti orang-orang yang lemah dan lembut seperti kebanyakan wanita dan orang-orang yang menyerupai mereka. Di antara mereka ada yang tidak sabar dan tidak penyayang, seperti orang-orang yang keras hati dan panik. Yang terpuji adalah orang yang sabar dan penyayang, sebagaimana perkataan para fuqaha tentang wali, "Seyogianya dia kuat tanpa kasar, lembut tanpa lemah." Dengan kesabarannya dia menjadi kuat, dan dengan kelembutannya dia menyayangi. Dengan kesabaranlah seorang hamba ditolong, karena pertolongan bersama kesabaran. Dan dengan rahmat, Allah Ta'ala merahmatinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang." Dan beliau bersabda, "Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi." Dan beliau bersabda, "Rahmat tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka." Dan beliau bersabda, "Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian." Wallahu a'lam (Allah Maha Mengetahui). Selesai.
Diterjemahkan dari Az-Zuhud wa Al-Wara wa Al-'Ibadah oleh Ibnu Taimiyah rahimahullaah
Read more...