Sunday, March 30, 2025

Tentang Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Dua Hari Raya

Bab: Tentang Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Dua Hari Raya


--

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) di lapangan terbuka (‘musalla’), yaitu tempat di pintu timur kota Madinah yang biasa digunakan untuk meletakkan tandu jamaah haji. Beliau hanya sekali melaksanakan shalat Id di masjidnya, yaitu ketika turun hujan, sehingga beliau shalat di dalam masjid. Itu pun jika hadisnya sahih, dan hadis tersebut terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah. Namun, kebiasaan beliau adalah selalu melaksanakan shalat Id di lapangan terbuka.
Beliau mengenakan pakaian terbaiknya saat keluar menuju shalat Id. Beliau memiliki satu set pakaian khusus untuk hari raya dan hari Jumat. Pernah beliau memakai dua kain hijau, dan dalam kesempatan lain memakai kain bergaris merah. Namun kain merah ini tidak berwarna merah polos sebagaimana dipahami sebagian orang. Jika merah polos, maka tidak dianggap sebagai ‘burdah’ (selendang), melainkan kain bergaris merah seperti kain dari Yaman. Maka disebut merah karena adanya garis-garis merah di dalamnya.
Telah sahih dari beliau (tanpa pertentangan) adanya larangan mengenakan pakaian yang dicelup dengan ‘mu‘ashfar’ (pewarna merah kekuningan) atau pakaian merah. Beliau memerintahkan Abdullah bin ‘Amr untuk membakar dua kain merah yang ia kenakan. Maka tidak mungkin beliau sangat membenci warna merah dengan kebencian yang kuat lalu memakainya sendiri. Maka dari dalil yang ada menunjukkan bahwa mengenakan warna merah itu haram atau paling tidak sangat dimakruhkan.
Pada hari raya Idul Fitri, beliau makan kurma terlebih dahulu sebelum keluar menuju tempat shalat, dan beliau memakannya dengan jumlah ganjil. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan apapun sampai selesai shalat dan kembali dari lapangan, kemudian makan dari hewan kurbannya.
Beliau juga mandi untuk shalat hari raya, jika hadisnya sahih. Namun terdapat dua hadis yang lemah tentang hal itu: satu dari Ibnu Abbas melalui jalur perawi Jubarah bin Mughlis, dan satu lagi dari Fakah bin Sa‘d melalui jalur perawi Yusuf bin Khalid As-Samti. Namun telah sahih dari Ibnu Umar—dengan kesungguhannya dalam mengikuti sunah—bahwa beliau mandi pada hari raya sebelum keluar.

---

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan kaki, dan sebuah tombak kecil (‘anazah) dibawa di hadapannya. Ketika sampai di lapangan, tombak itu ditancapkan di hadapannya sebagai sutrah (pembatas shalat). Sebab lapangan pada masa itu adalah tempat terbuka yang tidak memiliki bangunan atau tembok, sehingga tombak itu berfungsi sebagai pembatas.

Beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Ibnu Umar, dengan ketatnya mengikuti sunah, tidak keluar hingga matahari terbit, dan bertakbir sejak dari rumah sampai ke tempat shalat.

Ketika beliau sampai di lapangan, beliau langsung memulai shalat tanpa adzan, tanpa iqamah, dan tanpa seruan “ash-shalatu jami‘ah”. Maka dari itu, sunahnya adalah tidak dilakukan hal-hal tersebut.

Beliau maupun para sahabatnya tidak melaksanakan shalat apa pun sebelum maupun sesudah shalat Id di lapangan.

Beliau memulai dengan dua rakaat shalat sebelum khutbah, dengan takbir tujuh kali di rakaat pertama (termasuk takbiratul ihram), dan antara tiap takbir ada jeda ringan. Tidak terdapat zikir tertentu dari Rasulullah di antara takbir-takbir itu, tetapi disebut dari Ibnu Mas‘ud bahwa beliau membaca tahmid, pujian kepada Allah, dan shalawat atas Nabi—sebagaimana disebutkan oleh Al-Khallal.

Ibnu Umar, yang sangat menjaga sunah, mengangkat kedua tangan pada setiap takbir.

Setelah takbir, Rasulullah langsung membaca surat Al-Fatihah, lalu membaca surat Qaf wal Qur’anil Majid pada salah satu rakaat, dan Iqtarabatissa‘atu wanshaqqal qamar pada rakaat lainnya. Kadang-kadang beliau membaca Sabbihisma Rabbikal A‘la dan Hal atâka hadîtsul ghasyiyah. Semua ini sahih dari beliau, dan tidak sahih selainnya.

Setelah selesai membaca, beliau bertakbir lalu ruku‘. Ketika berdiri dari sujud di rakaat kedua, beliau bertakbir lima kali, lalu membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat lainnya. Maka takbir dilakukan di awal tiap rakaat, dan bacaan setelah ruku‘.

Diriwayatkan pula bahwa beliau melakukan bacaan terlebih dahulu, lalu baru bertakbir setelahnya, tetapi riwayat ini tidak sahih karena berasal dari Muhammad bin Mu‘awiyah An-Naisaburi yang dinilai oleh Al-Baihaqi sebagai pendusta.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Katsir bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Awf, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah bertakbir tujuh kali sebelum membaca di rakaat pertama, dan lima kali sebelum membaca di rakaat kedua. Tirmidzi berkata: “Aku bertanya kepada Muhammad (yakni Al-Bukhari) tentang hadis ini, dan beliau berkata: tidak ada hadis yang lebih sahih dari ini dalam bab ini, dan aku berpendapat seperti ini.”

---

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalat Id, beliau berdiri menghadap jamaah, sementara mereka masih duduk dalam barisan-barisan mereka. Beliau menyampaikan nasihat, memberi wasiat, dan perintah-perintah penting. Jika beliau hendak mengutus pasukan, maka beliau umumkan saat itu juga, atau jika ada perkara penting, maka beliau sampaikan. Tidak ada mimbar yang beliau gunakan saat itu, dan mimbar masjid pun tidak dikeluarkan ke lapangan. Beliau berkhutbah dengan berdiri di tanah.

Jabir bin ‘Abdullah berkata:

> “Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada hari raya, beliau memulai dengan shalat, tanpa adzan dan tanpa iqamah. Lalu beliau berdiri bersandar pada Bilal, menyeru takwa kepada Allah, mendorong ketaatan kepada-Nya, menasihati dan mengingatkan manusia. Kemudian beliau pergi ke arah kaum wanita, memberi nasihat dan peringatan kepada mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Sa‘id Al-Khudri juga meriwayatkan bahwa:

> “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan. Yang pertama beliau lakukan adalah shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau berdiri menghadap jamaah yang masih duduk dalam shaf-shaf mereka…”
(HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Abu Sa‘id Al-Khudri menyebut bahwa:

> “Beliau shalat dua rakaat, lalu memberi salam, kemudian berdiri di atas tunggangannya menghadap kepada orang-orang sambil berkata: “Bersedekahlah kalian!” Maka wanita-wanita pun menjadi yang paling banyak bersedekah dengan anting, cincin, dan sebagainya.”

Awalnya saya mengira ini kekeliruan, karena Rasulullah biasa berjalan kaki ke lapangan, dan tombak kecil (’anazah) dibawa di depannya. Beliau hanya berkhutbah di atas tunggangan saat di Mina pada hari Nahr (10 Dzulhijjah). Tapi kemudian saya melihat bahwa Baqi bin Makhlad menyebutkan hadis ini dalam Musnad-nya melalui jalur shahih, yang memperkuat riwayat tersebut.

Disebutkan pula bahwa mungkin saja maksud “berdiri di atas tunggangannya” adalah kesalahan penulis, yang seharusnya tertulis “berdiri di atas kakinya” sebagaimana riwayat Jabir: “Beliau berdiri bersandar pada Bilal.” Maka bisa jadi tulisan "tunggangannya" merupakan kesalahan penyalin.

Jika ada yang berkata: bukankah telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, bahwa:

> “Aku menghadiri shalat Idul Fitri bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Semuanya memulai dengan shalat sebelum khutbah. Nabi turun dari tempatnya, dan aku bisa melihat beliau menyuruh para pria duduk dengan tangannya, lalu berjalan menuju kaum wanita, bersama Bilal, seraya membaca ayat {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ...} (Al-Mumtahanah: 12), lalu membaca sampai selesai.”

Begitu juga dalam riwayat Jabir disebut:

> “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan shalat, lalu berkhutbah kepada orang-orang. Setelah selesai, beliau turun lalu mendatangi kaum wanita dan memberi nasihat kepada mereka.”

Maka ini menunjukkan bahwa beliau berkhutbah dari tempat tinggi atau mimbar.

Jawabannya: Tidak diragukan bahwa hadis-hadis ini sahih, dan memang mimbar masjid tidak dikeluarkan ke lapangan. Orang pertama yang melakukannya adalah Marwan bin Al-Hakam, dan hal itu diprotes. Sedangkan mimbar dari tanah liat dan bata pertama kali dibangun oleh Katsir bin Ash-Shalt saat Marwan menjadi gubernur Madinah.

Maka kemungkinan besar, Nabi berdiri di tempat yang agak tinggi, seperti semacam dataran tinggi atau bangku (mimbar sederhana), lalu turun menuju kaum wanita untuk memberi nasihat. Wallahu a‘lam.

---

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai seluruh khutbahnya dengan pujian kepada Allah (alhamdulillah). Tidak ada satu hadis pun yang sahih dari beliau yang menunjukkan bahwa beliau membuka khutbah Idul Fitri atau Idul Adha dengan takbir.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Sa‘d, muadzin Nabi, bahwa:

> “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak takbir di sela-sela khutbah hari raya.”

Namun ini tidak menunjukkan bahwa beliau membuka khutbah dengan takbir, hanya menyebut bahwa beliau banyak bertakbir di tengah khutbah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai cara membuka khutbah hari raya dan khutbah istisqa (shalat minta hujan):

Ada yang berpendapat dibuka dengan takbir.

Ada yang mengatakan khutbah istisqa dibuka dengan istighfar.

Ada pula yang berpendapat keduanya dibuka dengan pujian kepada Allah.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Inilah pendapat yang benar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> ‘Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan pujian kepada Allah, maka ia terputus (tidak berkah).’”

Dan memang, Nabi selalu membuka khutbah dengan pujian kepada Allah.

Rasulullah memberikan keringanan bagi orang yang menghadiri shalat hari raya, bahwa mereka boleh duduk mengikuti khutbah atau langsung pergi.

Jika hari raya jatuh pada hari Jumat, maka beliau membolehkan orang-orang untuk tidak menghadiri shalat Jumat, cukup dengan shalat hari raya saja.

Beliau juga biasa menempuh jalan yang berbeda saat pergi dan pulang dari shalat Id:

Ada yang mengatakan, untuk menyapa lebih banyak orang di dua jalur.

Ada yang mengatakan, agar dua kelompok mendapat keberkahan dari beliau.

Ada yang menyebut, agar jika ada yang memiliki hajat, bisa menyampaikan kepada beliau.

Ada juga yang berpendapat, untuk menampakkan syiar Islam di berbagai jalan.

Sebagian menyebut, agar membuat kaum munafik merasa iri dengan kemuliaan Islam dan umatnya.

Ada pula yang berpendapat, agar bumi (tempat berpijak) semakin banyak menjadi saksi atas amal beliau, karena setiap langkah menuju shalat mengangkat derajat dan menghapus dosa.

Dan yang paling kuat, semua alasan tersebut benar, bahkan bisa jadi ada hikmah lain yang hanya diketahui oleh Allah.

---

Tentang takbir Idul Adha, diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bertakbir mulai dari shalat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai Ashar hari terakhir dari hari Tasyriq (13 Dzulhijjah), dengan lafadz:

> “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, Allahu akbar, wa lillaahil hamd.”

---

Diterjemahkan dari perkataan Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam
Zaadul Ma'aad

0 comments:

Followers

Google Friend Connect

Google Friend Wall

Powered By Blogger

  © Blogger template Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP