Tuesday, April 1, 2025

Hal-hal Pokok yang Dapat Digunakan untuk Mengenali Bahwa Suatu Hadis Adalah Maudhu‘ (Palsu) #1.

Bab


Kami ingin memberi peringatan tentang hal-hal pokok yang dapat digunakan untuk mengenali bahwa suatu hadis adalah maudhu‘ (palsu).

Di antaranya adalah: hadis tersebut memuat hal-hal yang sangat berlebihan, yang tidak mungkin diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal seperti ini sangat banyak.

Contohnya seperti dalam hadis palsu berikut:
"Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah, maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang memiliki tujuh puluh ribu lidah, setiap lidah memiliki tujuh puluh ribu bahasa yang semuanya memohonkan ampunan untuknya."

Atau hadis lain yang berbunyi:
"Barangsiapa melakukan ini dan itu, maka ia akan diberi di surga tujuh puluh ribu kota, di setiap kota ada tujuh puluh ribu istana, dan di setiap istana ada tujuh puluh ribu bidadari."

Dan contoh-contoh semacam ini yang mustahil keluar dari lisan Rasul.

Orang yang membuat hadis seperti ini pasti tidak lepas dari dua kemungkinan:

1. Ia adalah orang yang sangat bodoh dan dungu.


2. Atau ia adalah seorang zindiq (munafik/kafir yang pura-pura Islam) yang sengaja ingin merendahkan dan memperolok Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan meskipun sebagian orang menyatakan sanadnya sahih, namun akal sehat menjadi saksi bahwa hadis itu palsu. Karena kita melihat sendiri bahwa bersin dan kebohongan bisa terjadi secara bersamaan. Seandainya seratus ribu orang bersin ketika mendengar sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hal itu tidak bisa dijadikan bukti kebenaran hadis tersebut hanya karena mereka bersin. Demikian juga, jika mereka bersin ketika mendengar kesaksian palsu, hal itu tidak menjadikannya benar.

Demikian pula hadis: “Hendaklah kalian makan lentil, karena ia adalah makanan yang penuh berkah, melembutkan hati, dan di dalamnya telah disucikan tujuh puluh nabi.”

Abdullah bin al-Mubarak pernah ditanya tentang hadis ini, dan dikatakan kepadanya bahwa hadis tersebut diriwayatkan darinya. Ia menjawab: “Dariku?!”

Kemuliaan paling tinggi dari lentil hanyalah bahwa ia adalah makanan kesukaan orang Yahudi. Seandainya benar ada satu nabi yang disucikan karena lentil, tentu ia akan menjadi obat penyembuh segala penyakit. Lalu bagaimana mungkin ada tujuh puluh nabi disucikan karenanya?! Padahal Allah Ta‘ala menyebut lentil sebagai makanan yang lebih rendah (adnā) dalam ayat-Nya [Al-Baqarah: 61] dibandingkan manna dan salwa, dan menyandingkannya dengan bawang putih dan bawang merah. Apakah engkau menyangka bahwa para nabi Bani Israil disucikan karena makanan yang seperti ini?

Dan di antara mudarat (bahaya) yang terdapat pada lentil adalah: dapat memicu gangguan empedu hitam (sawda’), menyebabkan perut kembung, angin yang keras, sesak napas, darah kotor, dan berbagai macam gangguan fisik lainnya yang dapat dirasakan secara nyata.

Kemungkinan besar hadis ini dibuat oleh orang-orang yang memilih lentil dibandingkan manna dan salwa, atau orang-orang semisal mereka.

Termasuk pula hadis palsu lainnya seperti:
“Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi pada hari ‘Asyura.”

Dan hadis:
“Minumlah ketika sedang makan, maka kalian akan merasa kenyang.”

Padahal kenyataannya, minum saat makan justru merusak makanan, mengganggu proses pencernaannya di lambung, dan menghalangi kematangan makanan secara sempurna.

Contoh lainnya adalah hadis:
“Orang yang paling banyak berdusta adalah para tukang pewarna dan tukang emas.”

Al-Hasan (al-Basri) menolak hadis ini, karena kenyataannya kebohongan pada selain mereka jauh lebih banyak dibandingkan pada para tukang pewarna dan tukang emas. Seperti kaum Rafidhah—mereka adalah makhluk Allah yang paling banyak berdusta—para dukun, orang-orang tarekat sesat, dan para ahli nujum (peramal).

Sebagian orang menakwilkan hadis ini dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “tukang pewarna” (ash-shabbāgh) adalah orang yang menambahkan lafaz-lafaz dalam hadis untuk memperindahnya, dan “tukang emas” (ash-shawwāgh) adalah orang yang merangkai (membuat-buat) hadis yang tidak memiliki asal-usul.

Namun ini hanyalah takwil yang dingin (dipaksakan) untuk membela hadis yang batil.

.... bersambung #2

Diterjemahkan dari Manarul Munif oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah 





Read more...

Followers

Google Friend Connect

Google Friend Wall

Powered By Blogger

  © Blogger template Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP