Posts

Showing posts from April, 2025

Allah Ta‘ala Mengajak Hamba-hamba-Nya dalam Al-Qur’an Untuk Mengenal-Nya Melalui Dua Jalan

Allah Ta‘ala mengajak hamba-hamba-Nya dalam Al-Qur’an untuk mengenal-Nya melalui dua jalan: Pertama, dengan merenungi ciptaan-ciptaan-Nya (maf‘ūlātih). Kedua, dengan merenungi dan mentadabburi ayat-ayat-Nya (āyātih); yang pertama adalah ayat-ayat yang disaksikan (kauniyyah), dan yang kedua adalah ayat-ayat yang didengar dan dipahami (syar‘iyyah). Jenis pertama seperti firman-Nya: > “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, dan kapal-kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia...” (Al-Baqarah: 164) Dan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imran: 190) Ayat semacam ini sangat banyak dalam Al-Qur’an. Jenis kedua seperti firman-Nya: > “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (An-Nisa’: 82) “Maka apakah mereka tidak memikirkan perkataan (Al-Qur’an) itu?” (Al-Mu’minun: 68) “Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh ...

Tafsir Al-Furqan:73

Firman Allah Ta‘ala: ﴿وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (٧٣)﴾ (Dan orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah bersujud padanya dalam keadaan tuli dan buta) [Al-Furqan: 73]. Penafsiran para ulama: Mujahid mengatakan: Apabila mereka diberi nasihat dengan Al-Qur’an, mereka tidaklah menjatuhkan diri padanya dalam keadaan tuli yang tidak mendengarnya atau buta yang tidak melihatnya, tetapi mereka mendengar, melihat, dan meyakininya. Ibnu Abbas berkata: Mereka tidak berada padanya sebagai orang tuli dan buta, tetapi mereka tunduk dan khusyuk. Al-Kalbi berkata: Mereka jatuh (bersujud) padanya sebagai orang-orang yang mendengar dan melihat. Al-Farra’ berkata: Ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tetap dalam keadaan sebelumnya, seolah-olah mereka tidak mendengarnya — inilah yang disebut “khurur” (jatuh), dan aku mendengar orang Arab berkata: ‘Dia duduk mencaciku’ sebagaimana dik...

Mengingkari Kemungkaran dan Syarat-Syaratnya

Contoh Pertama: Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menetapkan kewajiban mengingkari kemungkaran bagi umatnya, agar dengan pengingkaran itu terwujud kebaikan (ma’ruf) yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, jika pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dan lebih dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka pengingkaran tersebut tidak dibenarkan, meskipun perbuatan yang diingkari itu sendiri memang dibenci oleh Allah dan pelakunya dimurkai oleh-Nya. Contohnya adalah pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak; hal ini menjadi sumber dari segala keburukan dan fitnah hingga akhir zaman. Para sahabat pernah meminta izin kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk memerangi para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, mereka berkata: “Tidakkah kami perangi mereka?” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa melihat dari pemimpinnya ses...

Syariat Dibangun atas Dasar Maslahat bagi Para Hamba

Ini adalah pembahasan yang sangat penting, di mana banyak kekeliruan besar terhadap syariat terjadi karena kebodohan terhadap prinsip ini. Akibatnya, muncul kesulitan, beban yang tak sanggup dipikul, serta anggapan bahwa syariat datang membawa sesuatu yang berat dan tak mampu dilaksanakan — padahal syariat yang agung dan bercahaya ini tidak mungkin datang membawa hal semacam itu. Hakikatnya, dasar dan fondasi syariat adalah: Kebijaksanaan (hikmah), Keadilan, Rahmat, dan Maslahat bagi manusia dalam urusan dunia dan akhirat. Sehingga, setiap hukum atau fatwa yang keluar dari prinsip-prinsip tersebut — menuju kezaliman, kekerasan, kerusakan, atau kebodohan — maka itu bukan dari syariat, walau dimasukkan ke dalamnya melalui takwil (penafsiran). Syariat adalah: Keadilan Allah di antara hamba-Nya, Rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, Cahaya dan petunjuk-Nya yang menunjukkan kebenaran dan jalan keselamatan, Obat yang menyembuhkan, Jalan lurus yang membawa keselamatan. Ia adalah: Kesenangan bagi mat...

Hal-hal Pokok yang Dapat Digunakan untuk Mengenali Bahwa Suatu Hadis Adalah Maudhu‘ (Palsu) #2

Fasal Di antaranya (tanda hadis palsu) adalah: rendahnya mutu isi hadis dan isinya yang terkesan mengada-ada atau menjadi bahan olok-olok, seperti hadis: > "Seandainya beras itu adalah seorang lelaki, maka ia adalah seorang yang penyabar. Tidaklah seorang yang lapar memakannya, kecuali ia akan kenyang." Hadis ini termasuk ucapan yang rendah dan tidak bermutu, yang seharusnya dijaga oleh orang-orang mulia—apalagi disandarkan kepada Pemimpin para nabi. Dan (juga) hadis: > "Kacang kenari adalah obat, keju adalah penyakit, tetapi jika keduanya bercampur dalam perut, maka menjadi penyembuh." Semoga laknat Allah menimpa orang yang mengada-adakan hadis ini atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan hadis: > "Seandainya manusia mengetahui keutamaan biji fenugreek (hilbah), niscaya mereka akan membelinya seharga emas." Serta hadis: > "Hadirkanlah sayur-sayuran hijau (daun-daunan) di atas meja makan kalian, karena itu dapat mengusir seta...

Keadaan Manusia terhadap Was-was Setan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:  "Sudah pasti bahwa kebanyakan manusia mengalami was-was (bisikan) dari setan. Maka di antara mereka ada yang menuruti was-was tersebut hingga menjadi kafir atau munafik.  Dan di antara mereka ada yang hatinya telah tenggelam dalam syahwat dan dosa, sehingga tidak merasakan was-was itu kecuali ketika ia mulai mencari agama.  Maka ia akan menjadi seorang mukmin atau justru menjadi munafik.  Oleh karena itu, seringkali was-was muncul saat seseorang sedang sholat, yang tidak muncul ketika ia tidak sholat. Karena setan akan lebih banyak mengganggu seorang hamba ketika ia ingin kembali kepada Rabb-nya, mendekat kepada-Nya, dan menyambung hubungan dengan-Nya.  Maka karena itu, orang yang sholat lebih banyak mengalami was-was dibandingkan yang tidak sholat.  Dan para ulama serta ahli agama mengalami was-was lebih banyak dibandingkan orang awam.  Oleh karena itu pula, ditemukan pada para penuntut ilmu dan ahli...

Dasar Segala Kebaikan Adalah Engkau Mengetahui Bahwa Apa yang Allah Kehendaki Pasti Terjadi, dan Apa yang Tidak Dia Kehendaki Tidak Akan Terjadi

Kaidah: Dasar segala kebaikan adalah engkau mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Maka yakinilah bahwa kebaikan-kebaikan adalah bagian dari nikmat-Nya, maka bersyukurlah atasnya dan berdoalah agar Dia tidak mencabutnya darimu. Dan bahwa kejahatan-kejahatan adalah bagian dari kehinaan dan hukuman dari-Nya, maka mohonlah kepada-Nya agar Dia menghalangimu darinya, dan janganlah Dia menyerahkanmu kepada dirimu sendiri dalam berbuat kebaikan maupun meninggalkan keburukan. Telah sepakat para arifin bahwa segala kebaikan berasal dari taufik Allah kepada hamba-Nya, dan segala keburukan berasal dari ditinggalkannya hamba oleh Allah. Mereka juga sepakat bahwa taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan hamba pada dirinya sendiri, dan bahwa kehinaan adalah ketika Allah membiarkan hamba dengan dirinya sendiri. Jika setiap kebaikan berakar dari taufik—dan itu sepenuhnya ada di tangan Allah, bukan di tangan hamba—maka kuncinya ...

Hal-hal Pokok yang Dapat Digunakan untuk Mengenali Bahwa Suatu Hadis Adalah Maudhu‘ (Palsu) #1.

Bab Kami ingin memberi peringatan tentang hal-hal pokok yang dapat digunakan untuk mengenali bahwa suatu hadis adalah maudhu‘ (palsu). Di antaranya adalah: hadis tersebut memuat hal-hal yang sangat berlebihan, yang tidak mungkin diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal seperti ini sangat banyak. Contohnya seperti dalam hadis palsu berikut: "Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah, maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang memiliki tujuh puluh ribu lidah, setiap lidah memiliki tujuh puluh ribu bahasa yang semuanya memohonkan ampunan untuknya." Atau hadis lain yang berbunyi: "Barangsiapa melakukan ini dan itu, maka ia akan diberi di surga tujuh puluh ribu kota, di setiap kota ada tujuh puluh ribu istana, dan di setiap istana ada tujuh puluh ribu bidadari." Dan contoh-contoh semacam ini yang mustahil keluar dari lisan Rasul. Orang yang membuat hadis seperti ini pasti tidak lepas dari dua kemungkinan: 1. Ia adalah orang yang sa...