Posts

Sunnah, Ijtihad, dan Keterbatasan Manusia dalam Tradisi Ulama (1)

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Pokok alasan (udzur) mengapa sebagian imam meninggalkan suatu hadis terbagi menjadi tiga macam: Ia tidak meyakini bahwa Nabi ﷺ benar-benar mengucapkannya. Ia tidak meyakini bahwa ucapan tersebut dimaksudkan untuk masalah yang sedang dibahas. Ia meyakini bahwa hukum tersebut telah dinasakh (dihapus). Ketiga macam ini bercabang lagi menjadi banyak sebab. Sebab pertama: hadis tersebut belum sampai kepadanya. Orang yang belum sampai kepadanya hadis tidak dibebani kewajiban untuk mengetahui dan mengamalkannya. Jika hadis itu belum sampai kepadanya, lalu ia berpendapat dalam suatu kasus berdasarkan makna lahir ayat Al-Qur’an, atau hadis lain, atau qiyas, atau istishab, maka terkadang pendapatnya bisa sesuai dengan hadis yang ditinggalkan itu, dan terkadang menyelisihinya. Sebab ini adalah yang paling banyak terjadi pada pendapat para salaf yang tampak bertentangan dengan sebagian hadis. Karena tidak seorang pun dari para imam mampu m...

Hakikat Ilḥād dalam Nama dan Sifat Allah serta Ragam Penyimpangannya

Pengantar Teks berikut merupakan terjemah bait-bait syair karya Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah yang mengulas konsep ilḥād dalam nama dan sifat Allah. Karya ini disusun sebagai kajian metodologis dalam disiplin akidah klasik , dengan tujuan menjelaskan kerangka berpikir, prinsip pemaknaan, dan arah epistemologis yang digunakan para ulama dalam menjaga kemurnian akidah. Dalam tradisi keilmuan Islam abad pertengahan, syair ( nazham ) berfungsi sebagai media ilmiah yang efektif untuk: merangkum konsep teologis yang kompleks, menata dan menjelaskan kerangka metodologi berpikir, serta membantu pembaca memahami batasan makna agar terhindar dari kerancuan konsep ( tasywīsh al-mafāhīm ). Istilah ilḥād yang digunakan Ibnu al-Qayyim mencakup spektrum makna yang luas dalam kajian akidah, meliputi penyimpangan makna melalui penyekutuan, penafian hakikat, maupun penolakan total terhadap ketuhanan. Oleh karena itu, pilihan bahasanya bersifat tegas dan sistematis, selaras dengan fungsi ilmi...

Penjelasan tentang Apa yang Wajib Diyakini, Diketahui, dan Diamalkan, serta Hakikat Yaqīn Menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah rahimahullāh ta‘ālā ditanya: “Apa yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf? Apa yang wajib ia ketahui? Apa ilmu yang dianjurkan? Apa itu keyakinan (yaqīn)? Bagaimana ia diperoleh? Apa itu mengenal Allah?” Maka beliau menjawab: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Adapun pertanyaan: “Apa yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf?” maka hal ini memiliki bagian global dan rinci . Bagian global: Wajib atas seorang mukallaf untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya , serta mengakui seluruh apa yang dibawa oleh Rasul, berupa: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta seluruh apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasul, sehingga ia mengakui seluruh berita yang disampaikan dan seluruh perintah yang diperintahkan . Maka wajib membenarkan beliau dalam apa yang beliau kabarkan , dan tunduk kepadanya dalam apa yang beliau perintahkan . Adapun secara rinci: Maka setiap mukallaf wajib meng...

Para Sahabat adalah Pemuka Ulama dan Ahli Fatwa

Sebagaimana para sahabat adalah pemuka umat, imam-imamnya, dan para pemimpinnya, maka mereka juga adalah pemuka para mufti dan ulama. Al-Laits meriwayatkan dari Mujāhid: “Para ulama itu adalah para sahabat Muhammad ﷺ.” Sa‘īd meriwayatkan dari Qatādah tentang firman Allah Ta‘ālā: “Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah kebenaran.” (QS. Saba’: 6) Ia berkata: “Mereka adalah para sahabat Muhammad ﷺ.” Dan firman-Nya: “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu, hingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang diberi ilmu: ‘Apa yang dikatakannya tadi?’” (QS. Muhammad: 16) Yang dimaksud orang-orang yang diberi ilmu adalah para sahabat Muhammad ﷺ. Para Sahabat yang Paling Agung Ilmunya Yazīd bin ‘Amīrah berkata: ketika kematian mendatangi Mu‘ādz bin Jabal, dikatakan kepadanya: “Wahai Abū ‘Abdir-Raḥmān, berilah kami wasiat.” Ia berkata: “Dudukkan aku. Sesungguhnya ilmu dan iman itu tempatn...

Mengenal Para Sahabat yang Banyak, Menengah, dan Sedikit Berfatwa

[Para Sahabat yang Banyak Berfatwa] Dan para sahabat Rasulullah ﷺ yang terjaga (diriwayatkan) dari mereka fatwa-fatwa berjumlah seratus lebih tiga puluh orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan yang termasuk paling banyak di antara mereka ada tujuh orang, yaitu: Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas‘ud, ‘Aisyah Ummul Mukminin, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin ‘Abbas, dan Abdullah bin ‘Umar. Abu Muhammad bin Hazm berkata: “Dimungkinkan untuk dihimpun dari fatwa masing-masing mereka sebuah kitab besar.” Ia berkata pula: “Dan sungguh Abu Bakar Muhammad bin Musa bin Ya‘qub bin Amirul Mukminin al-Ma’mun telah menghimpun fatwa Abdullah bin ‘Abbas – رضي الله عنهما – dalam dua puluh kitab. Dan Abu Bakar Muhammad yang disebutkan ini adalah salah satu imam Islam dalam ilmu dan hadis.” [Para Sahabat yang Tingkat Fatwanya Menengah] Abu Muhammad berkata: “Dan para sahabat yang berada di tingkat menengah di antara mereka dalam fatwa yang diriwayatkan dari mereka adalah: Ab...

Antara Kurma, Anggur, dan Hati Manusia: Refleksi tentang Nilai dan Manfaat

Kemudian renungkanlah pohon kurma ini, yang merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah. Engkau akan menemukan padanya berbagai keajaiban dan tanda-tanda yang sungguh menakjubkan. Ketika Allah menetapkan bahwa pada pohon ini terdapat bunga betina yang membutuhkan pembuahan, Dia juga menjadikan padanya bunga jantan yang membuahinya, sebagaimana jantan dan betina pada hewan. Karena itulah pohon kurma memiliki kemiripan yang kuat dengan manusia dibandingkan pohon-pohon lainnya, terutama dengan orang beriman, sebagaimana Nabi ﷺ mencontohkannya. Kemiripan itu tampak dalam banyak sisi: Pertama, kuatnya akar pohon kurma dan kokohnya ia tertancap di dalam tanah; tidak seperti pohon yang tercabut dari atas tanah dan tidak memiliki ketetapan. Kedua, baiknya buah kurma, manis rasanya, dan luasnya manfaatnya. Demikian pula seorang mukmin: baik ucapannya, baik amalnya, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ketiga, kelanggengan pakaian dan perhiasannya; daunnya tidak gugur baik di musim pan...

Nikmat sebagai Ujian, Bukan Jaminan Kemuliaan

Allah Ta‘ala berfirman: “Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Maka seorang hamba tidak pernah lepas dari nikmat, karunia, anugerah, dan kebaikan-Nya walau sekejap mata pun, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, Allah mencela orang yang ketika diberi sebagian nikmat-Nya lalu berkata: “Sesungguhnya aku diberi itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78). Dan dalam ayat lain: “Maka apabila manusia ditimpa kesusahan, ia berdoa kepada Kami. Kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi (nikmat ini) karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Az-Zumar: 49). Al-Baghawi berkata: “Dengan ilmu dari Allah bahwa aku memang pantas menerimanya.” Muqatil berkata: “Dengan kebaikan yang Allah ketahui ada padaku.” Sebagian yang lain berkata: “Dengan ilmu dari Allah bahwa aku memang layak menerimanya.” Makna pendapat ini adalah: Allah memberikannya karena Dia mengetahui bahwa orang itu memang panta...