Posts

Nukilan Penting dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Terkait Nisbat Kekafiran, Kefasikan, dan Kemaksiatan pada Seseorang

"Aku juga selalu—dan siapa saja yang duduk bersamaku mengetahuinya—menjadi salah satu orang yang paling keras melarang untuk menisbatkan kekafiran, kefasikan, atau kemaksiatan kepada individu tertentu, kecuali apabila telah diketahui bahwa hujjah risalah (dalil yang jelas) telah tegak atas dirinya; yang apabila ia menyelisihinya maka ia bisa kafir dalam satu keadaan, fasik dalam keadaan lain, atau bermaksiat dalam keadaan lainnya. Dan aku menegaskan bahwa Allah telah mengampuni kesalahan umat ini. Dan itu mencakup kesalahan dalam masalah-masalah khabariyah (akidah) maupun masalah amaliyah (praktik ibadah). Para salaf senantiasa berselisih dalam banyak masalah, namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang memvonis saudaranya sebagai kafir, fasik, atau pelaku maksiat. Sebagaimana ketika Syuraih mengingkari bacaan seseorang terhadap ayat {بَلْ عَجِْبتُ وَيَسْخَرُونَ}, ia berkata: “Allah tidak merasa takjub!” Berita itu sampai kepada Ibrahim an-Nakha‘i, maka ia berkata: “Syuraih ...

Ikhtilaf Ulama: Sebab, Prinsip, dan Contoh dari Generasi Sahabat hingga Imam Mazhab

Tentang sebab-sebab perbedaan yang terjadi di antara para imam setelah mereka sepakat pada satu landasan yang sama dan merujuk kepadanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Al-Humaydī menyebutkan dalam bab ini satu kutipan dari perkataan Abū Muḥammad Ibn Ḥazm—dan ini termasuk perkataan beliau yang terbaik—maka kami menukilkannya sesuai lafazhnya. Al-Humaydī berkata: “Al-Ḥāfiẓ Abū Muḥammad ‘Alī bin Aḥmad bin Sa‘īd al-Yazīdī al-Fārisī menuturkan, dalam penjelasan tentang pokok perbedaan syar‘i dan sebab-sebabnya: > Jiwa (penuntut ilmu), setelah yakin bahwa dasar yang disepakati dan menjadi rujukan hanyalah satu—yaitu apa yang datang dari pemilik syariat; baik dalam Al-Qur’an, atau dari perbuatan dan perkataan beliau yang dalam hal itu tidak berbicara dari hawa nafsu—ketika ia melihat dan menyaksikan adanya perbedaan di kalangan ulama umat ini pada perkara-perkara yang jalurnya satu dan asalnya tidak berbeda, maka ia pun meneliti sebab yang menimbulkan perbedaan itu, dan mengapa se...

Rahasia Takdir dan Kelembutan Allah dalam Ujian Hamba-Nya

Ucapan Nabi Yusuf yang jujur (al-Shiddîq): “Wahai Ayahku, itulah ta'bir mimpiku yang dahulu. Sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan, dan Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskanku dari penjara dan mendatangkan kalian dari padang setelah setan menghasut antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Di sini disebutkan bahwa Allah berbuat lathîf (lembut) dalam apa yang Dia kehendaki. Ia menyampaikan sesuatu melalui cara-cara tersembunyi yang tidak diketahui manusia. Nama Allah al-Latîf mencakup ilmu-Nya tentang perkara-perkara yang halus dan tersembunyi, serta cara-Nya menyampaikan rahmat dengan jalan yang tidak terlihat. Dari sini muncul makna taltuff (kelembutan tersembunyi), sebagaimana perkataan Ash-habul Kahfi: “Hendaklah ia berlaku dengan lembut, dan jangan sampai seorang pun mengetahui keberadaan kalian.” Tampak secara lahiriah bahwa ujian ya...

Sabar & Syukur dalam Ujian: Wasiat Ibnu Taimiyah dari Belenggu Penjara

Berkata Imam Abu al-‘Abbas Ahmad bin Taymiyyah dalam jawabannya atas selembar surat yang dikirim kepadanya di dalam penjara pada bulan Ramadan tahun 706 H: Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kita dan keburukan amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas seluruh agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada beliau serta keluarga beliau. Amma ba’d. Telah sampai kepadaku lembaran surat yang berisi pesan dari dua syekh yang agung, dua ulama, dua ahli ibadah, dua teladan—semoga Allah meneguhkan keduanya dan s...

Hikmah di Balik Pilihan Allah dan Adab Seorang Hamba antara Istikharah dan Ridha terhadap Takdir

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sebagaimana Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana dalam memilih siapa yang Dia pilih dari makhluk-Nya, dan menyesatkan siapa yang Dia sesatkan di antara mereka, demikian pula Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana terhadap apa yang ada dalam perintah dan syariat-Nya — berupa akibat-akibat yang baik dan tujuan-tujuan yang agung. Allah Ta‘ālā berfirman: “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Allah menjelaskan bahwa apa yang Dia perintahkan kepada mereka — Dia mengetahui apa yang terkandung di dalamnya berupa kemaslahatan dan manfaat bagi mereka — itulah yang menyebabkan Dia memilihnya dan memerintahkan mereka untuk melakukannya. Sedangkan mereka mungkin membencinya, baik karena ketidaktahuan maupun karena tabiat manusia ...

Hidupnya Ilmu dengan Istiqāmah

Ilmu adalah anugerah agung dari Allah. Ia bukan sekadar kumpulan informasi atau hafalan di kepala, tetapi cahaya yang menghidupkan hati dan menuntun langkah menuju ridha-Nya. Namun, ilmu tidak akan hidup kecuali jika disertai amal dan dijaga dengan istiqamah. Tanpa istiqamah, ilmu akan layu, bahkan bisa menjadi hujjah atas diri di hadapan Allah. Al-Khatib Al-Baghdadi رحمه الله berkata: العِلْمُ يَهْتِفُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ "Ilmu menyeru amal; jika amal menyambutnya, maka ilmu akan menetap. Jika tidak, ilmu akan pergi." Beliau juga mengatakan bahwa ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, dan amal tanpa ilmu bagaikan perjalanan tanpa petunjuk. Maka keduanya tidak boleh dipisahkan, karena ilmu adalah penuntun amal, dan amal adalah buah dari ilmu. --- 1. ILMU ADALAH KEHIDUPAN HATI Ilmu sejati menghidupkan hati. Tanpa ilmu, hati menjadi mati dan gelap. Allah menggambarkan orang berilmu dan beramal sebagai orang yang hidup dan bercahaya, sedangkan or...

Tafsir Firman Allah Ta’ala {أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ...} (QS. Al-Baqarah: 19)

Kemudian Allah ﷻ membuat perumpamaan lain yang bersifat “air” bagi mereka, sebagaimana firman-Nya: {أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ} (“Atau seperti hujan lebat dari langit yang di dalamnya ada kegelapan, petir, dan kilat. Mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga karena takut mati terkena sambaran petir. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”) (QS. Al-Baqarah: 19) Allah menyerupakan bagian yang mereka peroleh dari apa yang dibawa Rasulullah ﷺ berupa cahaya dan kehidupan, dengan orang yang menyalakan api di kegelapan lalu apinya padam ketika ia sangat membutuhkannya. Hilanglah cahayanya, dan ia tetap berada dalam kegelapan, kebingungan, tidak menemukan jalan dan tidak mengetahui arah. Juga menyerupakan keadaan mereka dengan orang yang terkena hujan lebat (صيّب) — yaitu hujan yang turun deras dari langit ke bumi. Allah menyerupakan petu...