Posts

Perhitungan Astronomi dan Penetapan Awal Bulan

Arsip Islam Online Sesungguhnya mengambil hisab yang pasti (qath‘i) pada hari ini sebagai sarana untuk menetapkan awal bulan-bulan, wajib diterima dari باب “قياس الأولى” (qiyās al-awlā / analogi yang lebih utama), maksudnya: bahwa sunnah yang mensyariatkan bagi kita untuk mengambil sarana yang lebih rendah—karena ia dikelilingi keraguan dan kemungkinan (yaitu rukyat )—tidaklah menolak sarana yang lebih tinggi, lebih sempurna, dan lebih memenuhi dalam mewujudkan maksud, serta mengeluarkan umat dari perbedaan yang tajam dalam menentukan awal puasa, hari berbuka, dan hari kurban, menuju persatuan yang diharapkan dalam syiar dan ibadahnya; yang terkait dengan hal-hal paling khusus dari agamanya, paling melekat pada kehidupan dan entitas ruhaniahnya, yaitu sarana hisab yang pasti . Sesungguhnya syariat Islam yang toleran, ketika mewajibkan puasa pada bulan qamari (bulan hijriah), menetapkan untuk pembuktiannya sarana alami yang mudah dan mampu dilakukan oleh seluruh umat, tanpa kesamar...

Sunnah, Ijtihad, dan Keterbatasan Manusia dalam Tradisi Ulama (1)

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Pokok alasan (udzur) mengapa sebagian imam meninggalkan suatu hadis terbagi menjadi tiga macam: Ia tidak meyakini bahwa Nabi ﷺ benar-benar mengucapkannya. Ia tidak meyakini bahwa ucapan tersebut dimaksudkan untuk masalah yang sedang dibahas. Ia meyakini bahwa hukum tersebut telah dinasakh (dihapus). Ketiga macam ini bercabang lagi menjadi banyak sebab. Sebab pertama: hadis tersebut belum sampai kepadanya. Orang yang belum sampai kepadanya hadis tidak dibebani kewajiban untuk mengetahui dan mengamalkannya. Jika hadis itu belum sampai kepadanya, lalu ia berpendapat dalam suatu kasus berdasarkan makna lahir ayat Al-Qur’an, atau hadis lain, atau qiyas, atau istishab, maka terkadang pendapatnya bisa sesuai dengan hadis yang ditinggalkan itu, dan terkadang menyelisihinya. Sebab ini adalah yang paling banyak terjadi pada pendapat para salaf yang tampak bertentangan dengan sebagian hadis. Karena tidak seorang pun dari para imam mampu m...

Hakikat Ilḥād dalam Nama dan Sifat Allah serta Ragam Penyimpangannya

Pengantar Teks berikut merupakan terjemah bait-bait syair karya Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah yang mengulas konsep ilḥād dalam nama dan sifat Allah. Karya ini disusun sebagai kajian metodologis dalam disiplin akidah klasik , dengan tujuan menjelaskan kerangka berpikir, prinsip pemaknaan, dan arah epistemologis yang digunakan para ulama dalam menjaga kemurnian akidah. Dalam tradisi keilmuan Islam abad pertengahan, syair ( nazham ) berfungsi sebagai media ilmiah yang efektif untuk: merangkum konsep teologis yang kompleks, menata dan menjelaskan kerangka metodologi berpikir, serta membantu pembaca memahami batasan makna agar terhindar dari kerancuan konsep ( tasywīsh al-mafāhīm ). Istilah ilḥād yang digunakan Ibnu al-Qayyim mencakup spektrum makna yang luas dalam kajian akidah, meliputi penyimpangan makna melalui penyekutuan, penafian hakikat, maupun penolakan total terhadap ketuhanan. Oleh karena itu, pilihan bahasanya bersifat tegas dan sistematis, selaras dengan fungsi ilmi...

Penjelasan tentang Apa yang Wajib Diyakini, Diketahui, dan Diamalkan, serta Hakikat Yaqīn Menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah rahimahullāh ta‘ālā ditanya: “Apa yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf? Apa yang wajib ia ketahui? Apa ilmu yang dianjurkan? Apa itu keyakinan (yaqīn)? Bagaimana ia diperoleh? Apa itu mengenal Allah?” Maka beliau menjawab: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Adapun pertanyaan: “Apa yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf?” maka hal ini memiliki bagian global dan rinci . Bagian global: Wajib atas seorang mukallaf untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya , serta mengakui seluruh apa yang dibawa oleh Rasul, berupa: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta seluruh apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasul, sehingga ia mengakui seluruh berita yang disampaikan dan seluruh perintah yang diperintahkan . Maka wajib membenarkan beliau dalam apa yang beliau kabarkan , dan tunduk kepadanya dalam apa yang beliau perintahkan . Adapun secara rinci: Maka setiap mukallaf wajib meng...