Hakikat Ilḥād dalam Nama dan Sifat Allah serta Ragam Penyimpangannya
Pengantar
Teks berikut merupakan terjemah bait-bait syair karya Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah yang mengulas konsep ilḥād dalam nama dan sifat Allah. Karya ini disusun sebagai kajian metodologis dalam disiplin akidah klasik, dengan tujuan menjelaskan kerangka berpikir, prinsip pemaknaan, dan arah epistemologis yang digunakan para ulama dalam menjaga kemurnian akidah.
Dalam tradisi keilmuan Islam abad pertengahan, syair (nazham) berfungsi sebagai media ilmiah yang efektif untuk:
-
merangkum konsep teologis yang kompleks,
-
menata dan menjelaskan kerangka metodologi berpikir,
-
serta membantu pembaca memahami batasan makna agar terhindar dari kerancuan konsep (tasywīsh al-mafāhīm).
Istilah ilḥād yang digunakan Ibnu al-Qayyim mencakup spektrum makna yang luas dalam kajian akidah, meliputi penyimpangan makna melalui penyekutuan, penafian hakikat, maupun penolakan total terhadap ketuhanan. Oleh karena itu, pilihan bahasanya bersifat tegas dan sistematis, selaras dengan fungsi ilmiah teks serta konteks intelektual zamannya.
Teks ini dapat dibaca sebagai:
-
telaah terhadap cara berpikir dan pendekatan epistemologis dalam memahami nama dan sifat Allah,
-
sarana penguatan pemahaman konseptual dalam akidah,
-
serta panduan intelektual untuk menjaga konsistensi antara wahyu dan akal.
Membaca karya klasik seperti ini mengajak pembaca pada kedewasaan ilmiah, yakni kemampuan menempatkan pemetaan konsep secara proporsional, memahami konteks sejarahnya, dan mengaitkannya secara bijak dengan realitas kontemporer. Dengan pendekatan ini, teks menjadi sarana memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman, sekaligus menumbuhkan ketenangan dalam beragama.
--
Bab tentang penjelasan hakikat ilḥād (penyimpangan) dalam nama-nama Rabb semesta alam, serta penyebutan jenis-jenis kaum yang melakukan ilḥād
Nama-nama-Nya adalah seluruhnya sifat-sifat pujian,
bersifat turunan dan mengandung makna-makna yang agung.
Waspadalah dari ilḥād pada nama-nama-Nya,
karena itu adalah kekufuran—semoga Allah melindungi dari kekufuran.
Hakikat ilḥād pada nama-nama tersebut adalah menyimpang,
baik dengan perbuatan syirik, ta‘ṭīl (meniadakan makna), maupun pengingkaran.
Maka para pelaku ilḥād itu terbagi menjadi tiga golongan,
dan atas mereka kemurkaan dari ar-Raḥmān.
Golongan pertama adalah kaum musyrik,
karena mereka menamai berhala-berhala mereka dengan nama-nama-Nya
dan berkata, “Ini adalah tuhan lain.”
Mereka menyerupakan makhluk dengan Sang Pencipta,
kebalikan dari orang yang menyerupakan Sang Pencipta dengan manusia.
Demikian pula kaum ittihād (paham penyatuan),
mereka adalah saudara-saudara terdekat kaum musyrik.
Mereka memberikan seluruh wujud nama-nama-Nya,
karena mereka menganggap seluruh wujud adalah عين Allah (zat Allah) Yang Mahakuasa.
Bahkan kaum musyrik lebih ringan kesyirikannya dibanding mereka,
karena kaum musyrik hanya mengkhususkan nama itu pada berhala-berhala.
Oleh sebab itu, mereka disebut musyrik menurut mereka,
andaikata mereka menggeneralisasi, maka itu adalah kekufuran murni.
Golongan kedua dari para pelaku ilḥād adalah kaum ta‘ṭīl,
yang menafikan hakikat makna nama-nama tersebut tanpa dalil.
Bagi mereka tidak ada selain nama semata,
atau mereka mentakwilkannya dengan makna yang meniadakan hakikatnya secara batil.
Tujuannya adalah menolak nash dari makna hakiki,
maka bersungguh-sungguhlah dalam hal itu dengan ungkapan yang tampak halus.
Mereka meniadakan, memalingkan, mentakwil, lalu menafikan,
dan melemparkan tuduhan tajsīm dan kekufuran
kepada orang-orang yang menetapkan hakikat nama dan sifat
berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.
Jika mereka berhujjah kepadamu dengan dalil-dalil itu, katakanlah:
“Ini hanyalah majaz, makna kedua.”
Jika engkau kalah dalam debat majaz, katakan pula:
“Makna hakiki tidak dapat menghasilkan keyakinan.”
Bagaimana mungkin, padahal itu hanya dalil-dalil lafaz,
yang telah lama dipisahkan dari keyakinan.
Jika dalil-dalil itu semakin banyak dan engkau kalah menjelaskannya,
maka gunakanlah “hukum” yang kami buat
untuk menolak dalil-dalil Al-Qur’an:
setiap nash yang tidak bisa ditakwil dengan majaz atau makna lain,
katakan: “Ia bertentangan dengan akal,”
dan keduanya tidak mungkin selaras menurut akal.
Padahal tidak ada kemungkinan selain satu dari empat pilihan,
semuanya saling berhadapan dan setara:
mengamalkan keduanya, atau kebalikannya,
atau membatalkan akal—yang ini mustahil.
Akal adalah asal dari nash, dan ia adalah bapaknya,
jika engkau membatalkannya maka cabangnya ikut batal.
Maka diputuskan untuk mengamalkan akal
dan menolak nash dengan “hukum rasional” tersebut.
Padahal mengamalkannya justru mengantarkan pada pembatalannya,
maka tinggalkanlah ia sepenuhnya, dengan penelantaran dan pelupaan.
Demi Allah, kami tidak berdusta terhadap mereka,
dan kami serta mereka kelak akan berselisih di hadapan ar-Raḥmān.
Di sanalah para pelaku ilḥād akan dibalas,
dan siapa yang menafikan ilḥād akan diberi ampunan.
Maka bersabarlah sedikit, wahai orang yang menetapkan sifat-sifat ar-Raḥmān,
karena itu hanyalah sesaat.
Engkau akan memetik pahala kesabaranmu,
sementara yang lain memetik dosa dan kezaliman.
Allah akan menanyai kami dan mereka
tentang penetapan dan penafian setelah berlalu waktu.
Maka siapkanlah jawaban yang memadai
saat pertanyaan itu datang dengan penjelasan yang terang.
Golongan ketiga adalah yang menafikan seluruhnya,
dan mengingkari makna-makna dengan kedustaan.
Ia adalah pengingkar ar-Raḥmān secara total,
tidak mengakui Pencipta sama sekali dan tidak pula ar-Raḥmān.
Inilah ilḥād yang sesungguhnya, maka waspadalah,
semoga Allah menyelamatkanmu dari api neraka,
dan memberimu kedudukan dekat di sisi-Nya
serta surga tempat tinggal bersama ampunan dan keridaan.
Jangan merasa asing karena keterasingan di tengah manusia,
sebab manusia bagaikan orang mati di kuburan.
Tidakkah engkau tahu bahwa Ahlus Sunnah
selalu menjadi orang-orang asing di setiap zaman?
Katakanlah kepadaku, kapan Rasul, para sahabat,
dan para tabi‘in yang mengikuti dengan ihsan
selamat dari gangguan
orang bodoh, pembangkang, munafik,
dan musuh yang memerangi dengan kezaliman dan tirani?
Apakah engkau mengira dirimu pewaris mereka,
padahal belum pernah merasakan gangguan sedikit pun demi ar-Raḥmān?
Tidak! Engkau belum berjihad dengan sebenar-benar jihad,
bukan dengan tangan dan bukan pula dengan lisan.
Jiwa telah menipumu dengan sesuatu yang mustahil,
maka perbaharuilah pandangan dan perhitunganmu.
Seandainya engkau benar-benar pewaris mereka,
niscaya engkau akan disakiti sebagaimana mereka disakiti
dengan berbagai bentuk ujian.
--
Disadur dari Nuniyah / Kafiyah Syafiyah oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullaah.
--
Melalui bait-bait ini, Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa penyimpangan dalam memahami nama dan sifat Allah dapat muncul dalam beberapa bentuk: ada yang menyimpang dengan menyekutukan, ada yang mengosongkan makna dengan dalih rasionalitas, dan ada pula yang menolak makna serta ketuhanan secara keseluruhan. Seluruh bentuk tersebut berakar pada cara berpikir yang menjauh dari keseimbangan antara wahyu dan akal.
Ia menegaskan bahwa jalan yang lurus terletak pada penetapan makna nama dan sifat Allah sebagaimana datang dalam wahyu, dengan pemahaman yang layak bagi keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dan tanpa menghilangkan makna. Sikap ini menuntut ketelitian metodologis, kesabaran, serta kesiapan menghadapi keterasingan dalam menjaga kejernihan akidah. Dengan demikian, bait-bait ini berfungsi sebagai peta pemahaman sekaligus pengingat agar iman dirawat melalui metode berpikir yang jujur, seimbang, dan beradab.
Comments